Jumat, 13 April 2012

Kisah sahabat Rasulullah saw-Umar bin Khattab




  1. Biografi Khalifah Umar bin Khattab

Umar Bin Khatab adalah satu dari khulafaurasyidin yang memimpin kekhalifahan Islam pasca wafatnya Baginda Rasululloh Muhammad SAW. Umar menjadi khalifah kedua menggantikan Abu Bakar Shidiq. Sosok Umar bin Khatab sangat berpengaruh di kalangan bangsa Arab karena keberanian, ketegasan, dan keteguhan jiwanya. Ia adalah pendukung, pengikut utama dakwah Nabi Muhammad SAW. Khalifah Umar berasal dari bani Adi, salah satu bagian suku Quraisy. Nama lengkapnya Umar Bin Khatab Bin Nafiel bin abdul Uzza. Ayahnya bernama Khaththab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Beliau lahir di Makkah tahun 581 Masehi.

Sahabat Nabi SAW terdekat dan khalifah kedua al-Khulafa’ ar-Rasyidun. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail al-Mahzumi al-Qurajsyi dari suku Adi. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim. Suku Adi terpandang mulia dan mempunyai martabat tinggi di kalangan Arab. Suku ini masih termasuk rumpun Kuraisy.


  1. Sifat dan Karakter Khalifah Umar bin Khattab

Umar mempunyai postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya keras, berani, dan berdisiplin tinggi. Pada masa remajanya, dia dikenal sebagai pegulat perkasa dan sering menampilkan kemampuannya itu dalam pesta tahunari pasar Ukaz di Mekah. la memiliki kecerdasan yang luar biasa, mampu memprakirakan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih. Kelebihan-kelebihan yang dimilikinya itu mengantarkannya terpilih menjadi wakil kabilahnya. la selalu diberi kepercayaan sebagai utusan mewakili kabilah Kuraisy dalam melakukan perundingan-perundingan dengan suku-suku lain. Keunggulannya berdiplomasi membuatnya populer di kalangan berbagai suku Arab.

Nabi SAW mengakui keunggulan-keunggulan yang dimiliki Umar, pemuda yang gagah berani, tidak mengenai takut dan gentar, dan mempunyai ketabahan dan kemauan keras. Oleh karena itu, untuk kepentingan perjuangan Islam, Nabi SAW pernah berkata, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab.” Doa Nabi SAW diperkenankan Allah SWT dengan Islamnya Umar sekitar tahun 616.


Bismillahir Rahmanir Rahiim
“Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal’khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal’hadi ila shirotikal mustaqiim wa’sholallahu alaiihi wa’ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim”.

Sementara itu tentang diri Umar bin Khaththab,.ra, maka ada Hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau pernah bersabda:

“Sungguh dalam umat-umat (terdahulu) terdapat orang orang yang dibisiki (muhaddatsin) dan diajak bicara oleh Allah Swt (mukallamin). Kalau dalam umat ini ada, maka ia adalah Umar r.a.”

Sebagian orang yang memiliki kepahaman tinggi, ditanya tentang apa yang dimaksud muhaddatsun? Maka ia menjawab, bahwa Muhaddatsun adalah tingkatan kaum shiddiqun yang paling tinggi.
Bukti-bukti yang menunjukkan adalah sebagaimana yang diriwayatkan, bahwa suatu saat ia sedang berkhotbah. Kemudian ia berteriak di tengah-tengah khotbahnya, “Wahai Sariyah!, gunung, gunung!” Saat itu Sariyah bin Hishn sedang memimpin pasukan perang yang berada di ambang pintu Nahawand. Sementara di .depannya ada musuh yang jauhnya masih memakan perjalanan sekitar satu bulan. Kemudian ia mendengar suara Umar, lalu ia dengan pasukannya mulai bergerak menuju ke gunung, dan akhirnya mereka menang mengalahkan musuhnya.

Ditanyakan kepada Sariyah bin Hishn, “Bagaimana engkau tahu hal itu?” Ia menjawab, “Aku mendengar suara Umar r.a. berteriak, Wahai Sariyyah, gunung, gunung’!” (H.r. al-Baihaqi dari Amr bin al-Harits).

Diriwayatkan dariAbu Utsman an-Nahdi yang berkata, “Saya pernah melihat Umar mengenakan baju yang ditambal dua belas tambalan saat ia sedang berkhotbah.” (H.r. Malik dari Anas).

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab r.a. yang berkata, “Semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang menunjukkan aibku kepadaku.”
Diriwayatkan dari Nabi saw. yang bersabda:
“Setan akan menyingkir dari bayang-bayang Umar r.a.
(H.r. Bukhari-Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ibnu Asakir dari Aisyah).

Dikisahkan, bahwa Umar pernah mengambil jerami dari tanah, kemudian berkata, “Andaikan aku tidak pernah dilahirkan ibuku, andaikan aku jerami ini dan andaikan aku tidak pernah wujud apa pun…..”

Diriwayatkan dari Umar ra. yang berkata, “Setiap kali aku ditimpa suatu musibah tentu Allah akan memberikan empat kenikmatan dalam musibah tersebut: Sebab musibah itu tidak menimpa agamaku, dan musibah itu tidak lebih besar daripada yang menimpaku. Sedangkan aku masih bisa ridha dengan musibah yang menimpaku, dan aku berharap pahala dari musibah itu.”

Umar r.a. berkata, “Andaikan sabar dan syukur itu dua ekor kendaran unta maka aku tidak akan peduli mana yang akan aku tunggangi. “
Suatu ketika ada seseorang datang kepada Umar r.a. yang mengadukan kefakirannya. Kemudian Umar bertanya kepadanya, “Apakah Anda masih memiliki makanan untuk makan malam Anda?”

Ia menjawab, “Ya!” Umar berkata, “Berarti Anda bukan orang fakir. “
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib yang berkata, “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku cintai untuk berjumpa dengan Allah dengan wajah yang sama kecuali orang yang berkepribadian tenang ini, Umar.”
Diriwayatkan, pada suatu hari Ali bin Abi Thalib pernah melihat Umar r.a. lari di saat tengah hari. Lalu Ali bertanya tentang alasan apa yang membuatnya lari di tengah hari. Maka ia menjawab, “Aku telah menghilangkan unta sedekah (zakat), kemudian aku pergi untuk mencarinya.” Maka Ali berkata, “Wahai Amirul Mukminin engkau akan memberatkan para khalifah sesudahmu.”


Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – berkata: Orangorang ahli hakikat banyak mengambil suri teladan dari Umar dan menjadikannya sebagai referensi dari berbagai makna khusus dari perilaku Umar, seperti memilih mengenakan pakaian bertambal dan kasar, meninggalkan kesenangan nafsu, menghindari syubhat dan menampakkan kemuliaan-kemuliaan (karamat), tidak peduli terhadap orang yang mencacinya ketika kebenaran harus ditegakkan dan kebatilan harus dimusnahkan, memberikan persamaan hak antara orang-orang yang dekat dengan mereka yang jauh, berpegang teguh pada yang lebih berat dalam hal ketaatan kepada Allah dan riwayat-riwayat lain dimana bila kita uraikan akan menjadi panjang.

Adapun riwayat yang menyatakan.bahwa Umar melihat sekelompok manusia yang sedang duduk-duduk di masjid, kemudian ia perintah untuk mencari pekerjaan (rezeki), dan juga suratnya yang dikirimkan kepada Salman, adalah barangkali karena ia tahu mereka tidak mampu melakukan duduk di masjid sebagaimana mestinya. Mereka tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain, atau mungkin sebab-sebab yang lain. Oleh karenanya ia memerintah mereka untuk mencari pekerjaan. Sebab Nabi saw., Abu Bakar dan Umar r.a. telah melihat Ashhabush-Shuffah. Mereka adalah sekelompok orang yang jumlahnya sekitar tiga ratusan orang yang tinggal di masjid, namun Nabi, Abu Bakar dan Umar juga tidak membenci mereka dan tidak memerintah mereka keluar dari masjid untuk mencari nafkah.

Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia pernah berkata kepada saudaranya, Zaid bin Khaththab di saat perang Uhud, “Jika engkau mau, lepas saja baju besi yang aku kenakan ini kemudian engkau pakai.” Zaid menjawabnya, “Saya juga senang mati syahid, sebagaimana engkau juga menyukainya.”
Ini suatu isyarat yang sangat agung dari mereka, yang menunjukkan hakikat tawakal.

Diriwayatkan dari Umar yang mengatakan, “Aku menemukan ibadah dalam empat macam:
Pertama, menunaikan perintah Allah.
Kedua, menjauhi yang diharamkan Allah.
Ketiga, memerintah kebaikan demi mengharap pahala dan Allah.
Keempat, mencegah kemunkaran karena takut murka Allah.


  1. Khalifah Umar bin Khattab Sebelum Masuk Islam

Sebelumnya, Umar dikenal sebagai salah se­orang tokoh Arab Kuraisy yang paling gigih menentang seruan Nabi SAW. Ketika disampaikan kepadanya bahwa adiknya, Fatimah, beserta suaminya telah memeluk Islam, ia mendadak menjadi geram dan sangat murka. Tanpa menunggu lebih lama ia segera pergi ke rumah adiknya. Sesampainya di sana, ia mendapati adik, ipar, dan beberapa orang muslim sedang mempelajari Al-Qur’an. Begitu melihat Umar, mereka semua lalu terdiam membisu dan tidak berani bergerak sedikit pun. Dengan emosi yang meluap-luap Umar menampar adiknya.

Suaminya pun tak terelakkan dari pukulan Umar. Di puncak kemarahannya, mata Umar menangkap sebuah lembaran yang bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan hatinya menjadi ciut. Dengan tangan bergetar dipungutnya lembaran itu, lalu dibacanya ayat-ayat Al-Qur’an yang tertera di situ. Menurut sebagian riwayat, yang tertera dalam lem­baran itu adalah beberapa ayat dari permulaan su­rah Taha. Setelah membaca ayat-ayat itu, perasaannya menjadi tenang, dan rasa damai menyelinap di hatinya. Timbul keinginan kuat untuk segera menemui Rasul SAW. la pun segera meninggalkan rumah adiknya menuju rumah al-Arqam di mana Nabi SAW sedang menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi.


  1. Khalifah Umar bin Khattab Masuk Islam

Sesampainya di rumah al-Arqam, Umar segera mengetuk pintu. Mengetahui yang datang adalah Umar, sahabat-sahabat yang sedang bersama Nabi SAW menjadi gentar dan ketakutan, kecuali Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Nabi SAW yang dikenal sebagai seorang yang gagah berani. Nabi SAW menyuruh membuka pintu dan mempersilakan Umar masuk. Melihat sikap Nabi SAW yang sangat lembut dan bijaksana, Umar merasa kecil di hadapannya. Sambil menggenggam leher baju Umar, Nabi SAW berkata dengan suara keras, “Islamlah engkau, wahai Ibnu Khattab!” Umar pun lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai tanda ia telah masuk Islam.

Masuk Islamnya Umar segera diikuti oleh putra sulungnya, Abdullah, dan isterinya, Zainab binti Maz’un. Selain itu, keislaman Umar membuka jalan bagi tokoh-tokoh Arab lainnya masuk Islam. Sejak saat itu, berbondong-bondonglah orang masuk Islam sehingga dalam waktu singkat pengikut Islam bertambah dengan pesatnya.

Umar telah membawa cahaya terang dalam per­mulaan perjuangan Islam. Dakwah Islam, yang semula dijalankan secara rahasia dan sembunyi-sem­bunyi, kini disiarkan secara terang-terangan. Umar menjadi pembela dan pelindung umat Islam dari segala gangguan. Ibnu Asir mengungkapkan bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Islamnya Umar adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah suatu pertolongan, dan pemerintahannya adalah rahmat. Semula, umat Islam tidak berani mengerjakan salat dengan terang-terangan, takut dianiaya oleh kafir Kuraisy, tetapi setelah itu mereka dapat beribadah dengan leluasa tanpa merasa tertekan.” Umar telah menunjukkan kesetiaan dan pengabdiannya tanpa pamrih demi kejayaan Islam, seolah-olah ia hendak menebus segala kesalahan dan dosa yang diperbuatnya pada masa jahiliah.

Juga, setelah Umar Masuk Islam, posisi Nabi Muhammad makin kuat. Umar adalah seorang panglima perang dan terlibat langsung dalam berbagai peperangan seperti perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Setelah Umar menjadi khalifah, kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat mencakup wilayah Mesopotamia (Iraq) dan sebagian Persia Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara. Pengaruh Islam juga melebar ke Armenia setelah merebutnya dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.

Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja. Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat. Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam. Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.


  1. Khalifah Umar bin Khattab Bergelar Al Furqon

Setelah Islam, Umar menjadi salah seorang sahabat Nabi SAW terdekat. Begitu dekatnya, sampai Nabi SAW pernah berkata, “Andaikata masih ada nabi sesudahku, Umarlah orangnya.” la juga digelari oleh Nabi SAW dengan al-Faruq, artinya pembeda/pemisah. Maksudnya, Allah telah memisahkan dalam dirinya antara yang hak dan yang batil. Hanya Umar yang begitu berani mengemukakan pikiran-pikiran dan pendapatnya di hadapan Nabi SAW, bahkan ia juga tidak segan menyam­paikan kritik untuk kebaikan dan kemaslahatan umat Islam.

Diriwayatkan, pada suatu ketika ia ber­sama Nabi SAW berada di dekat Ka’bah, Nabi SAW lalu menunjukkan kepadanya makam Ibra­him. Seketika Umar bertanya apakah di situ boleh dilakukan salat? Nabi SAW menjawab bahwa hal itu belum diperintahkan. Lalu hari itu juga turun wahyu yang membolehkan salat di makam Ibrahim itu. Pada saat lain Umar mengusulkan kepada Nabi SAW agar memerintahkan isteri-isterinya menggunakan hijab (tirai), maksudnya agar berbicara de­ngan tamu-tamunya dari belakang hijdb sebab menurut Umar, yang berbicara dengan mereka bukan semuanya orang baik-baik melainkan ada juga orang jahat. Tidak lama kemudian turunlah ayat tentang hijab yang membenarkan pendapat Umar itu.

Umar juga banyak menengahi perselisihan yang terjadi di kalangan isteri-isteri Nabi SAW. Pandangan yang jauh ke depan, keluwesan, dan keadilannya membuat orang senang menerima pendapatnya. Hal ini juga terlihat ketika Rasulullah SAW wafat dan timbul perselisihan antara kaum Ansar dan Muhajirin di Saqifah mengenai pengganti Rasulullah SAW. Umar dengan tangkasnya melerai perselisihan.

Ketegasan dan keberanian Umar merupakan kekuatan besar dalam upaya mengembangkan Islam selanjutnya sehingga bukan hanya Nabi SAW yang menaruh simpati dan kepercayaan yang besar kepadanya, melainkan juga para sahabat, khususnya Abu Bakar. Pada masa pemerintahannya, Umar selalu diangkat sebagai penasihat sekaligus hakim dalam menangani permasalahan-permasalahan hukum yang timbul ketika itu. Kemampuan Umar dalam memecahkan berbagai problema hu­kum yang dihadapkan kepadanya meyakinkan Abu Bakar untuk mengangkatnya sebagai khalifah kelak.

 
  1. Khalifah Umar bin Khattab Mengumpulkan Al Quran

Umar adalah orang pertama yang mencetuskan ide tentang perlunya dilakukan pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika itu ayat-ayat Al-Qur’an tersebar di berbagai lempengan batu, pelepah kurma, tulang-belulang, dan sebagainya. Tempatnya pun berserakan di tangan para sahabat, tidak terkumpul dalam satu tempat. Pada masa Nabi SAW cukup banyak sahabat yang menghafal Al-Qur’an seluruhnya sehingga mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an belum dirasa perlu. Akan tetapi, pada masa Khalifah Abu Bakar terjadi banyak peperangan yang di dalamnya gugur banyak sahabat penghafal Al-Qur’an. Dalam Perang Yamamah saja 70 orang penghafal Al-Qur’an yang gugur. Oleh karena itu, Umar khawatir para penghafal Al-Qur’an akan habis. Dengan alasan itu, ia mengusulkan kepada Abu Bakar agar segera dikumpulkan semua tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Pada mulanya Abu Bakar keberatan menerima usul Umar karena Nabi SAW tidak pernah melakukan hal serupa, namun atas desakan Umar usul itu pun disetujuinya. Abu Bakar lalu mempercayakan tugas pengumpulan itu kepada Zaid bin Sabit, penulis wahyu pada masa Rasulullah SAW.


  1. Umar bin Khattab Menjadi Khalifah

Sebelum wafat, Abu Bakar memanggil beberapa orang sahabat besar untuk dimintai pendapatnya tentang rencana penunjukan khalifah yang akan menggantikannya. Umar merupakan calon tunggal Abu Bakar dan para sahabat dapat menyetujui pilihan Abu Bakar. Demikianlah tercatat dalam sejarah, pada tahun 13 H/634 M Umar dibaiat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar. Dialah khalifah pertama dan satu-satunya yang mendapat gelar Amirulmukminin (Panglima Orang-Orang Beriman).

Sebagai khalifah, Umar dikenal sangat adil da­lam menjalankan pemerintahannya. la tidak membedakan antara tuan dan budak, kaya dan miskin, dan penguasa dan rakyat jelata. Semua mendapat perlakuan yang sama. Yang salah dihukum dan yang benar dibelanya. Banyak didapati riwayat yang disampaikan Anas bin Malik, bahwa suatu ketika ia sedang duduk bersama Umar. Lalu datang seorang penduduk Mesir mengadukan perihal kezaliman Amr bin As, gubernur Mesir. Dengan serta merta Umar mengirim surat kepada Amr bin As agar segera menghadap Umar di Madinah. Setelah Amr datang, ia pun diadili dan ternyata bersalah. Umar lalu menyuruh penduduk yang teraniaya itu membalas sesuai dengan perlakuan yang diterimanya.

Meskipun telah menjadi khalifah, Umar tetap dekat dengan rakyatnya. Diceritakan bahwa setiap malam ia pergi berkeliling mengamati keadaan rakyatnya. Ia khawatir kalau-kalau ada di antara mereka yang mengalami kesulitan seperti sakit atau kelaparan. Bila ditemukan, ia tidak segan memberikan bantuan langsung, bahkan sering dijumpai Umar mengangkat sendiri bahan makanan untuk orang-orang yang memerlukannya.

Umar juga sangat takut mengambil harta kaum muslimin tanpa alasan yang kuat. la berpakaian sangat sederhana, bahkan tidak pantas untuk dipakai oleh seorang pembesar seperti dia. Umar meneladani perilaku Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupannya. Prinsip hidup sederhana juga diterapkan Umar di lingkungan keluarganya. Istri dan anak-anaknya dilarang menerima pemberian dalam bentuk apa pun dari para pembesar maupun dari rakyatnya.


  1. Yang dilakukan Umar Saat Menjadi Khalifah

Di bidang pemerintahan, langkah pertama yang dilakukan Umar sebagai khalifah adalah meneruskan kebijaksanaan yang telah ditempuh Abu Bakar dalam perluasan wilayah Islam ke luar Semenanjung Arabia. Pada masanya terjadi ekspansi kekuasaan Islam secara besar-besaran sehingga periode ini lebih dikenal dengan nama periode Futuhat al-Islamiyyah (perluasan wilayah Islam). Berturut-turut pasukan Islam berhasil menduduki Suriah, Irak, Mesir, Palestina, dan Persia.

Di bidang administrasi pemerintahan, Umar berjasa membentuk Majelis Permusyawaratan, Anggota Dewan, dan memisahkan lembaga pengadilan. la juga membagi wilayah Islam ke dalam 8 propinsi yang membawahi beberapa distrik dan subdistrik. Kedelapan propinsi itu adalah Mekah, Madinah, Suriah, Jazirah, Kufah, Basra, Mesir, dan Palestina. Untuk masing-masing distrik itu, diangkat pegawai khusus selaku gubernur. Gaji mereka ditertibkan. Selain itu, administrasi perpajakan juga dibenahi.

Untuk kepentingan pertahanan, keamanan, dan ketertiban dalam masyarakt, didirikanlah lembaga kepolisian, korps militer dengan tentara terdaftar. Mereka digaji yang besarnya berbeda-beda sesuai dengan tugasnya. Dia juga mendirikan pos-pos militer di tempat-tempat strategis.

Umar melakukan pembenahan peradilan Islam. Dialah yang mula-mula meletakkan prinsip-prinsip peradilan dengan menyusun sebuah risalah yang kemudian dikirimkan kepada Abu Musa al-Asy’ari. Risalah itu disebut Dustur ‘Umar atau Risalah al-Qada’.

Dalam upaya meningkatkan mekanisme pemerintahan di daerah, Umar melengkapi gubernurnya dengan beberapa staf yang terdiri dari katib (sekretaris kepala), katib ad-Diwan (sekretaris pada sekretariat militer), sahib al-kharaj (pejabat per­pajakan), sahib al-ahdas (pejabat kepolisian), .sahib bait al-mal (pejabat keuangan), dan qadi (hakim dan pejabat jawatan keagamaan). Selain itu, ada staf yang langsung dikirim dari pusat.

Kebijaksanaan lain yang dilakukan Umar adalah mendaftar seluruh kekayaan pejabat yang akan dilantik. Ini ditempuh untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan wewenang dan tindakan korupsi.


  1. Khalifah Umar bin Khattab dimata Ahli Fikih

Di kalangan fukaha (ahli fikih) ia dikenal sebagai sahabat yang berani melakukan ijtihad. Meskipun demikian, ia tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip musyawarah. Ijtihadnya mencakup berbagai masalah kehidupan, baik dalam bidang ibadah maupun bidang-bidang kemasyarakatan lainnya. Dalam bidang peribadatan, antara lain pendapatnya mengenai empat takbir dalam salat jenazah, penyelenggaraan salat tarawih berjemaah, penambahan kalimat as-salat khaiun mim an-naum (salat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh. Da­lam bidang kesejahteraan umat, di antara gagasannya adalah pemberian gaji bagi para imam dan muazin (tukang azan), pengadaan lampu penerangan dalam masjid-masjid, pengorganisasian khotbah-khotbah, pendirian baitulmal, penghapusan pembagian tanah rampasan perang (fay’), pembangunan terusan dan kota-kota seperti Basra, Kufah, Fustat, dan Mosul, dan pembangunan sekolah-sekolah.
Dalam bidang hukum ijtihadnya adalah mengenai pembagian harta warisan, perumusan prinsip kias, talak tiga, pendirian pengadilan-pengadilan, pengangkatan para hakim, pemakaian cambuk da­lam melaksanakan hukum badan, penetapan hukuman 80 kali dera bagi pemabuk, pemungutan zakat atas kuda yang diperdagangkan, dan larangan penyebutan nama-nama wanita dalam lirik syair. Penentuan kalender hijriah juga merupakan hasil ijtihad Umar yang diabadikan sampai sekarang.


  1. Kisah teladan Khalifah Umar bin Khattab

Siapa yang tidak kenal dengan Syaidina Umar bin Khatab? Dari cerita yang sering kita dengar bahwa Umar Bin Khatab ini memiliki paras yang tampan dan badan yang besar dan kekar. Beliau terkenal dengan pemimpin yang sangat adil, jujur dan amanah. Pada masa kepemimpinan beliaulah  Alquran dikumpulkan dalam 1 mushaf, adanya kalender islam yaitu kalender Hijriah, adanya kas negara (Baitul Mal),  lembaga peradilan dan lembaga perkantoran.

Beliau juga terkenal dengan kejujurannya. Alkisah suatu hari seorang utusan melaporkan kondisi negaranya, lalu setelah melaporkan kondisi negaranya, utusan tersebut menanyakan kabar kondisi umar. Lalu  umar mematikan lilin. Lalu utusan tersebut bertanya kenapa umar mematikan lilin? Ketika Umar mematikan lilin, rupanya hal itu menarik perhatian si utusan. Dia berkata, ”Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu dan aku tidak pernah melihatmu melakukannya.” Umar bertanya, ”Apa itu?” Si utusan berkata, ”Engkau mematikan lilin ketika aku bertanya kepadamu tentang keadaanmu dan keluargamu.”
Umar berkata, ”Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Saat aku bertanya kepadamu tentang urusan dan kepentingan mereka, maka lilin itu dinyalakan di hadapanku demi kemashlahatan mereka. Tapi ketika kamu membelokkan pembicaraan tentang keadaanku dan keadaan keluargaku, maka aku pun mematikan api milik kaum muslimin.”

Banyak Sekali Sifat-sifat teladan yang patut kita contoh dari Seorang Umar Bin Khatab, Salah satunya adalah, Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan."Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal yang setimpal."








  1. Khalifah Umar bin Khattab Wafat

Umar adalah profil seorang pemimpin yang sukses, mujtahid (ahli ijtihad) yang ulung, dan sahabat Rasulullah SAW yang sejati. Kesuksesannya dalam mengibarkan panji-panji Islam mengundang rasa iri dan dengki di hati musuh-musuhnya. Salah se­orang musuhnya, Abu Lu’lu’ah(Fairuz), telah mengakhiri hidupnya dengan cara yang amat tragis. la menikam Umar tatkala sedang bersiap-siap memulai salat subuh. Peristiwa ini mengakibatkan kematiannya. la wafat dalam usia 63 tahun setelah kurang lebih 10 tahun menggenggam amanat sebagai khaIifah atau Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah kematiannya jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.


  1. Umar Bin Khatab (Th.13-23 H/634-644 M)

Ia lebih muda 13 tahun dari Nabi Muhammad Saw. Sejak kecil ia sudah terkenal sangat cerdas dan pemberani. Tidak pernah takut menyatakan kebenaran di depan siapa pun. Tidaklah mengherankan setelah masuknya Umar ke dalam barisan orang muslim. Ia yang sebelum memeluk Islam paling berani menentang Islam, setelah masuk Islam paling berani menghancurkan musuh Islam.
Kemudian terkenallah Umar sebagai "Singa Padang Pasir", sangat disegani. Ia sangat tegas dalam mengatakan kebenaran. Oleh karenanya digelari oleh masyarakat Al-Faruq, artinya yang dengan tegas membedakan antara yang benar dan yang salah . Sedemikian gigihnya Umar dalam menegakkan Syariat Islam sampai Abdullah bin Mas'ud mengatakan : "Sejak Islamnya Umar kami merasa mulia," (HR.Bukhari)
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, wilayah Islam semakin meluas sampai ke Mesir, Irak, Syam, dan negeri-negeri Persi lainnya. Beliaulah yang pertama membentuk badan kehakiman dan menyempurnakan usaha Abu Bakar dalam membukukan Al-Qur'an.
Khalifah Umar wafat pada usia 63 tahun setelah memerintah selama 10 tahun 6 bulan oleh tikaman pedang Abu Lu'lu'ah, seorang budak milik Al-Mughirah bin Syu'bah. Dikenang umat Islam sebagai pahlawan yang sangat sederhana dan sportif. Kata-kata beliau yang sangat terkenal, "Siapa yang melihat pada diriku membelok, maka hendaklah ia meluruskannya". Selain itu, beliau dikenal sangat menyayangi rakyat.

Lihat juga kisah sahabat lainnya di Link ini:
Khulafaur Rasyidin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar